Aku
sedih juga senang saat ini. Dua parasaan itu berkecamuk jadi satu bersama-sama
memenuhi hatiku. Senang karena bisa menjadi sekarang ini, sedih karena aku
telah terbuang dari keluarga. Mereka malu akan keberadaanku, aku anak yang
terlahir cacat. Tapi, biarpun demikian aku tidak menaruh benci pada mereka. Aku
bersyukur masih bisa hidup dengan layak berkat ayah angkatku.
Aku sudah sampai di Istana.
Mengenakan atas putih bersih berenda begian dada dan bawahan merah bermotif
batik Kal-Tim, disertai asesoris kalung akar bahau liontin dengan inisial
namaku, aku tampak anggun. Kalung ini satu-satunya peninggalan dari kedua
orangtuaku saat aku dijual beberapa tahun lalu. Kalung ini sangat unik, aku
rasa tidak ada yang memilikinya kecuali aku.
Aturan protokoler sangant keras.
Semua sudah diatur, aku bersama ayah duduk dikursi nomor iga. Hari ini aka nada
pemberian penghargaan bagi anak-anak berbakat seluruh Indonesia. Impianku
sebentar lagi tercapai, kurang dari 2 jam lagi aku akan bertemu sang Presiden.
Suasana hatiku menjadi tegang, deg-degan. Ruang ber-Actidak mamu mendinginkan
hatiku. Aku gemetar, entah apa yang
membuatku menjadi begini. Atau mungkin aku terlalu gembira. Pokoknya aku
bingung!
Disini aku, berdiri disamping Bapak
Presiden. Memberikan lukisanku kepadanya. Lukisan tentang seorang anak jalanan
duduk di emper took sambil memegang piring seng. Lukisan ini menggembarkan
potret diriku waktu kecil. Lukisan berairan realis, dilukis dengan meida kanvas
berukuran A3, menggunakan cat minyak, dengan penuh kejujuran mencerutakan siapa
diriku sebenarnya.
Tepk tangan riuh rendah kudengar
dalam ruangan. Aku anak cacat bersalaman dengan orang nomor satu di Indonesia.
Kemudian beliau memelukku sambbil mengucapkan kata-kata penuh kekaguman padaku.
Aku mendapat penghargaan dan beasiswa. Aku tak kuasa menahan air mata, tanda
keharuan. Andai saja orang tuaku ada !
Tak terasa sudah selesai. Semua yang
hadir saling berjabat tangan. Ada yang membuatku terkesan yaitu Ibu Gauh
Ariani. Aku tidak mengerti mengapa pandangannya begitu lekat padaku. Orangnya
ramah dan banyak senyum. Dapatdisimpulkan dia orang baik. Namun, walau begitu ada
yang tidak aku mengerti, mengapa aku seperti sudah lama mengenalnya.
Beberapa hari sudah berlalu, aku
sudah kembali pada rutinitasku. Aku selalu mengisi waktu luangku untuk melukis.
Ketika keasyikanku baru saja kumulai tukang pos mengagetkanku.
“Apa benar ini kediaman Kertika
Putri Fuadi”
“Benar”
“ada surat dari Ibu Galuh Ariani
buat Dek Kertika”
Segera aku membukanya setelah tukang
pos itu pergi. “ada apa ya?” hatiku bertanya-tanya, dan isinya:
Kartika…..
Maafkan ibu, kalau kedatangn ini
membuatmu kaget.
Perlu Kartika ketahui, sejak
melihatmu pertama kali waktu itu, ibu seperti kembali ke masa lalu. Ibu
teringat pada anak ibu, kalau diabesar pasti seumuran denganmu. Yang amat
persis denganmu, tubuhnyapun tidak lengkap, sama seperti dirimu.
Kartika…..
Kamu pasti menilai ibu sebagai
orang baik,bukan? Tidak,itu penilaian salah. Sebenarmya ibu seorang yang jahat.
Kepapan telah membutakan hati ibu, anak ibu yang cacat ibu jual pada sepasang
suami-istri di kampong ibu. Hal itu ibu lakukan karena kemiskinan dan perasaan
malu. Sebagai kenangan ibu memberinya tanda seuntai kalung akar bahau denngan
liontin mirip seperti yang kamu pakai. Kalung itu buatan ibu sendiri.
Kartika…..
Aku tidak sanggup berandai-andai,
andaikan kamu adalah anak ibu. Kalau nama bisa sama, tetapi kalung itu
benar-benar merobek masa lalu ibu. Sekarang dip anti asuhan ini, ibu mengabikan
diri untuk menembus dosa.
Kartika ……
Ibu seperti terhipnotis, tidak
punya rasa malu menceritakan semua ini. Perlu kamu ketahui tuhan telah menghukum
ibu. Hidup yang berkecukupan ini tidak perna memberikan kebahhagiaan. Kamu
sanat beruntung memiliki orang tua yang saying padamu. Ibu berharap suatu saat
nanti, sebelm akhir hayat dapat bertemu dengan buah hati ibu dan memeluknya
dengan erat aga tidak terlepas lagi.
Kartika …….
Demikian surat dari ibu. Peluk
cium ibu unutukmu. Salam untuk kedua orang tuamu.
Dari Ibu Galuh Ariani
Mengapa ibu kejam kepadaku? Mengapa
ibu membuangku? Bertahun-tahun aku hidup tersia-sia, mengharap belas kasih
orang,kini tiba-tiba kau dating. Kau dating dengan penyasalan mu. Sekarang aku
sudah hidup senang dengan Pak Wardjono yang sekarang kupanggil ayah. Dia sangat
menyayangiku.
Sambil menangis, kartika melipat
surat dari Ibu Galuh. Apayang diceritakan sama dengan yang dialami. Cerita itu
adalah dirinya, kehidupan nyata yang sesungguhnya, dan itu benar adanya. Tak
ada gunanya menyimpan dusta, karena sama
saja dengan munafik. Kartika menangis sesukanya, mengepalkan tinju ke dinding
dan sesekali meneriakan nama ibunya. Antara rasa syukur dan kebencin,
berkecamuk jadi satu dalam hatinya. Antara mengakui atau tidak, Kartika
menimbang-nimbang keinginannya. Ini sudah nasibnya, apakah nasib telah
mempermainkannya atau tuhan telah mengabulkan doanya. Yang jelas ada getaran
yang ia tidak mengerti ketika teringat dengan perempuan itu. Tentang
keberadaanya surat ini ayah harus segera tahu karena aku tidak sabar
memanggilnya ibu. Ya, ibu yang sesungguhnya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar